Nurani Akademis

Oleh: M Rizal Fadillah

Bandung – Berbeda dengan dukungan “oplosan” Jokowi dari “alumni UI” beberapa waktu lalu, maka dukungan kepada Prabowo hari sabtu kemarin adalah “murni” akademisi. Kehadiran tanpa bayaran dan jauh dari kesan lapar “nasi bungkus”. Ruangan Padepokan Pencak Silat TMII dipadati peserta yang antusias menyimak pidato dan bergairah mendukung sang kandidat.  Profil kecendekiaan nampak dari tertibnya mengikuti rangkaian acara. Jauh dari gambaran rekayasa atau mobilisasi. Memang alumni dari 115 Perguruan Tinggi ini datang ke acara untuk menyuarakan “nurani akademisi” yang jatuh hati pada pasangan Prabowo Sandi. 

Akademisi memiliki standar berfikir logis, analitis,  sistematis, dan obyektif. Inilah yang selalu mendasari proses untuk menetapkan pilihan. Ditambah dengan cara pandang “multi sisi” maka akurasi dari konklusinya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Ketika nurani akademisi teraktualisasi pada kehadiran di Padepokan TMII   untuk mendukung pemenangan Prabowo Sandi, maka fenomena ini tak bisa diabaikan sebagai kekuatan signifikan. Nampaknya perubahan akan  semakin dekat dan  nyata. 

Kelas menengah senantiasa menjadi pelopor dari perubahan di negara manapun. Alumni Perguruan Tinggi adalah agen perubahan. Secara kontemporer ada dua kekuatan daya dukung perubahan. Pertama umat Islam yang merasa aspirasi politiknya terpinggirkan atau korban kebijakan politik yang tidak adil. Mengkristal lewat gerakan 212 dan reuni 212, kekuatan moral yang potensial menjadi kekuatan politik. Kedua, adalah gerakan kaum intelektual atau akademisi yang melihat secara analitis dan obyektif bahwa keadaan saat ini terjadi pembodohan masif dengan bangunan pencitraan dan kebohongan kebohongan. Ingkar janji dan “artificial political culture”. Make up yang menor dalam wajah politik bangsa. Akademisi yang merasa malu dipimpin oleh kepemimpinan tidak alami dan terlalu banyak polesan tersebut. 

Suara hati umat Islam yang terungkap dalam berbagai media maupun dari interaksi sesama menunjukkan adanya kegundahan besar dan  kecewa pada cara pemimpin  mengelola negara saat ini. Suara aktivis,  da’i mapun  para kyai yang komit pada pembelaan agama membuktikan hal ini. Jika dipadukan dengan nurani akademisi yang  mengkritisi keadaan melalui kecendikiawanannya dan berkutub sama pada semangat dan keinginan melakukan perubahan kepemimpinan nasional, maka secara kalkulasi dan gemuruh aspirasi nampaknya kandidat petahana akan bisa dikalahkan. Presiden baru adalah dambaan dan ditangannya terpercik harapan. 

Prabowo Sandi adalah representasi dari nurani akademisi. Nurani umat Islam. Nurani rakyat Indonesia.  Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *