#YANG GAJI KAMU SIAPA ?

by M Rizal Fadillah

Bandung, (1/2/2019) – Menkominfo Rudiantara sedang terkenal sekarang dimana mana bahkan melewati batas Nusantara. Pernyataan berupa pertanyaan kepada staf pegawai Kemenkominfo seorang ibu ASN menggelinding “Yang gaji kamu siapa”. Lengkapnya “Bu bu yang bayar gaji ibu siapa, sekarang, pemerintah atau siapa ? Bukan yang keyakinan ibu, ya sudah terimakasih”

Tagar yang bayar gaji kamu siapa masuk trending dunia. Rudiantara coba mengklarifikasi, tapi tetap viral topik tersebut.
Ada tiga faktor yang bisa menariknya peristiwa ini, yaitu :

Pertama, meski sesi acara adalah penilaian “disain” namun disain itu kaitannya dengan sosialisasi pilpres 2019. Sehingga sulit mensterilkan fikiran dan rasa dengan suasana pilihan kaitan pilpres.
Kedua, penomoran berpengaruh. Mengapa tidak A atau B tapi nomor satu dan nomor dua. Penilaian yang diwujudkan pada teriakan, ya ‘aspirasi publik’ yang kuat justru pada nomor dua. Faktanya di saat kampanye nomor satu ada saja (banyak) yang ekspresif mendukung nomor dua.
Ketiga, si Ibu memang tertanam keyakinan pilihan pada nomor dua, refleks menjawab kaitan pilpres.

Kekesalan pak Menteri mengkaitkan dengan gaji memang “terpeleset” karena entah panitia atau yang bersangkutan sudah mencoba memelesetkan. Hanya gagal usaha itu. Pertama soal warna merah dan putih, itu nuansa pilpres. Kedua nomor satu dan dua. Ketiga dengan menyebut “tak ada kaitan pilpres” sebenarnya memancing keterkaitan. Keempat yang diminta teriakan. Salah kalkulasi dikira ASN pro Jokowi sehingga percaya diri “melempar” pilihan nomor.

Soal gaji itu refleksi kekecewaan atas hasil dan alasan jawaban. Untuk menghukum ibu ASN pemilih Prabowo ini, maka emosinya membahasakan yang bayar itu pemerintahan Jokowi bukan yang keyakinan ibu. Prabowo.

Mestinya Presiden dan para Menteri membaca perasaan rakyat yang kecewa dengan cara pengelolaan negara. Jujur pada hati kecil. Sehingga tidak memaksa-maksa “menekan”, “menggiring”, “memobilisasi”, dan “membayar” pendukung untuk pamer dukungan. Masa-masa pencitraan selesai, kini masa pertanggungjawaban atas banyak kesalahan. Rakyat menilai bisakah bertanggungjawab ? Bukan justru membuat kebodohan baru dengan pencitraan palsu lagi. Jika di Korea atau Jepang Rudiantara sudah bunuh diri atau sekurangnya mengundurkan diri. Malu. Tapi disini untung tertolong oleh budaya tahan malu, kebal dan bebal. Menteri yang juga adalah ketua Majelis Wali Amanat UNPAD ini tak nampak merasa bersalah sama sekali. no problem. Easy going saja. Boss juga begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *