Andai Saya Presiden Jokowi

Oleh: MHR

1. Saya segerah cuti dari Jabatan Presiden selama kampanye berlangsung untuk menjaga proses Pilpres 2019 tetap berkualitas dan berintegritas. Dan saya tidak menggunakan fasilitas negara, dan atas nama jabatan Presiden untuk kepentingan politik saya. Sayapun tidak menggunakan ASN dan berbagai petangkat negara lainnya untuk kepentingan politikku. Dan saya mencegah kekerasan kampanya oleh tim sucses dan Partai Politik pendukungku. Sehingga dg begitu Pilpres sanggup melahirkan Presiden baru yang legitimit dan diterima oleh public. Kalau saya tidak cuti pasti rakyat tidak bisa membedakan saya sebagai Presiden di satu sisi dan juga calon Presiden RI di sisi lain. Meskipun tidak ada undang undangnya tetapi saya punya moral sebagai pemimpin untuk tetap minta cuti.

2. ANDAIKAN SAYA PRRSIDEN JOKO WIDODO, sayapun langsung mengundurkan diri dari Pencalonan Presiden RI untuk periode ke dua. Karena saya merasa telah gagal menunaikan janji janji Politik yang saya sampaikan dlm kampanye pada pilpres 2014 yang lalu. Janji janji yang tdk terpenuhi itu, dikarenakan saya tidak memiliki kapasitas dan kualitas diri yang cukup untuk membangun caracter dan integritas dlm memimpin negeri ini.

3. Pernyataan saya Joko Widodo yang Indonesia, Pancasila, NKRI pun gagal saya implementasikan. Program revolusi mental dan Nawacita perlahan tidak bermakna dan tenggelam di balik bilik bilik waktu, hilang tak karuan. Karena terbukti dlm kepemimpinan saya telah memecahkan Golkar terbelah 2, PPP terbelah 2. Itu contoh buruk dari kepemimpinanku yg lemah dan tak berintegritas. Lalu Sayapun menjalani kebijakan pembiaran dan diskriminatif, dg membiarkan TKI asing dari Cina berbondong bondong masuk ke Indonesia. Kebijakan ini telah menimbulkan pengangguran di negeri sendiri. Saya biarkan proses eksploitasi sumber daya alam oleh TKI asing dari Cina yang menimbulkan gelombang kemarahan rakyat.

4. Lagi lagi saya gagal, dlm program nawacita dan revolusi mental saya. Saya gagal menjaga kehormatan para ulama dari persecusi dan tindakan kekerasan oleh orang orang yang mengaku gila. Saya gagal menyelamatkan keselamatan warga dari berbagai intimidasi dan teror. Saya biarkan umat islam terbelah, terjebak dlm pro dan kontra serta saling gesek menggesek dan membangun permusuhan bersama. Dan saya biarkan HRS dlm tertuduh oleh perkara fitnah yang tidak beralasan. Perkara ini mengundang kemarahan umat islam terutama jutaan pendukung HRS dan sayapun kehilangan simpatik dan respek dari akar rumput umat islam.

5. Dan saya tahu selama debat dan kampanye berlangsung, saya telah memformulasi argumen dg data yang tidak valid bahkan cenderung manipulatif. Saya juga sadar telah mencederai perasaan rival saya dg pertanyaan yang tidak pantas dan tidak proporsional. Saya sadar selama kampanye berlangsung telah terlihat bhw di berbagai tempat masa berlimpah ruah dan meluber hadir tidak untukku. Sementara masa untukku adalah masa yg dimobilisasi dg uang dan sembako, bukan masa sadar.
Yang lebih mengerihkan lagi aku sadar masyarakat juga seakan menolak kehadiranku di banyak tempat.

6. Satu kesalahanku lagi ialah aku melarang pemberitaan oleh media nasional untuk tdk menyiarkan peristiwa monomental dan bersejarah, Reuni 212 di Monas Jakarta yang dihadiri oleh 13, 4 jt umat islam yang sangat menakjubkan itu. Sehingga umumnya bangsa Indonesia tidak mengikuti perkembangan berita ttg event yg spektaculer itu. Dampaknya umat kehilangan informasi tentang dakwah dan pendidikan. Dan sayapun mendapat kecaman dan cemoohan dari berbagai kalangan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *