Peran Bawaslu Dalam Penghitungan Suara

by : Adib Zain, Pegiat Investigasi Publik

Katasandi – Mungkin ini yang luput dari pengamatan publik, jika lembaga penyiaran publik atau televisi arus utama menggunakan data dari hitung cepat Lembaga Survey ( LS ) ‘terkenal’ bebasis sample Tempat Pemungutan Suara ( TPS ) sebesar 2000-3000 atau sekitar 0,25% – 0,375% dari 800.000 lebih TPS seluruh Indonesia, sungguh sangat kecil.

Namun jika dijumlahkan dari 5 LS yang tergabung dalam satu ‘sindikasi’ yang terhubung dengan TV arus utama tadi sehingga membentuk opini publik pada petang dan malam hari pemungutan suara 17 April 2019 terhadap hasil Pilpres/Suara Partai untuk DPR RI, maka kira-kira total sample mereka adalah sebesar antara 1,25% – 1,875 % dengan syarat tidak ada satupun sampel yang diambil dari TPS yang sama.

Nah, apakah ke-5 LS tersebut satu sama lain memiliki tingkat independensi yang dapat dipertanggung jawabkan serta bukan merupakan ‘Tim Sukses’ peserta Pilpres/Pileg tertentu baik secara total maupun parsial bertujuan menggiring opini publik agar mendekati dengan hasil survey yang mereka lakukan sebelum hari pemungutan suara, inilah masalah utama keraguan publik atas kredibilitas 5 LS itu, ada yang pernah melakukan survey yang tidak presisi dengan hasil hitung cepat mereka sendiri, tetapi ada juga yang memiliki tingkat akurasi tinggi.

Metoda sampel acak tersebut bisa saja tidak tepat sasaran, karena kesalahan memetakan sebaran kekuatan pemilih antar peserta Pilpres/Pileg dan proporsi jumlah pemilih yang beragam karakteristiknya yang sebarannya sangat luas. Sehingga dalam tingkat persaingan yang ketat dengan issue politik yang sangat terpolarisasi, metoda sampel acak dengan total sampel dibawah 2% berisiko tidak memenuhi tingkat akurasi hasil perolehan suara Peserta Pilpres/Pileg, karena sumber data LS jarang bisa diakses publik.

Apalagi, jika kita simak trafik penggunaan selular dan internet pada hari pemungutan suara sangat padat dan bisa terjadi, ‘sabotase’ pengiriman data dari surveyor LS ke pusat tabulasi hitung cepat mereka yang mengakibatkan terjadi ‘kekacauan’ basis data yang masuk ke server LS. Penelusuran ahli teknologi informasi juga harus dilakukan secara cermat, karena publik sudah tergiring oleh informasi bahwa pemenang Pilpres/perolehan Suara Partai sudah diketahui, namun sebenarnya masih bisa divalidasi dan dievaluasi, kalau dugaan sabotase terjadi.

Kita tahu, ada Badan Pengawas Pemilu ( Bawaslu ) yang memiliki Pengawas sampai ketingkat TPS yang tahu persis dan menjadi ‘saksi’ atas hasil akhir yang sah dan valid disetiap TPS, sehingga dapat memberikan data paling cepat dan paling akurat, bisa jadi lebih akurat dari saksi peserta Pilpres/Pileg atau Tim Survey, karena Pengawas TPS memegang data resmi dari TPS. Sehingga semua muara sengkarut perhitungan cepat yang tengah terjadi langsung dapat diantisipasi dan dievaluasi.

Tabulasi Bawaslu ini harus bersifat sangat rahasia dan hanya boleh dibuka dihadapan peserta Pemilu, DKPP dan MK jika terdapat selisih perhitungan suara disetiap tingkatan atau rekapitulasi KPU, termasuk ketidak-akuratan hitung cepat yang dilakukan LS atau oleh pihak diluar otoritas penyelenggara Pemilu, seperti tabulasi internal Tim Pemenangan atau pemantau Pemilu dll. yang bisa menjadi sumber ‘hoax’.

Untuk Pemilu Serentak 2019 ini nampaknya, Bawaslu perlu mengambil langkah inisiatif ( jika belum ), mengumpulkan hasil penghitungan suara dari Pengawas di setiap TPS seluruh Indonesia untuk menyandingkan atau membandingkan dengan data hasil penghitungan cepat dari LS dan penghitungan manual yang tengah dilakukan oleh KPU, sebelum sengkarut informasi hasil hitung cepat ini menjadi issue kegagalan pengelolaan saluran kedaulatan rakyat ini.

Inilah pandangan dan saran, semoga bermanfaat, agar Pilpres/Pileg yang tahapannya tengah berlangsung ini mencapai harapan kita bersama sebagai saluran kedaulatan rakyat yang memenuhi azas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil ( luber dan jurdil ) di negara yang kita cintai ini. Aamiin.

Bandung, 18 April 2019.

Catatan : TNI, Polri dll. saja melakukan sampling dan tabulasi data tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *