Puasa Lahir Batin

Oleh: Mochammad Sa’dun Masyhur

Katasandi- DALAM pemahaman awam, istilah lahir berkaitan dengan anatomi tubuh, diartikan berhubungan dengan fisik manusia, jasad, wadag, kerangka tubuh dan isinya.

Istilah lain yang lazim digunakan sebagai pengganti kata lahir, diserap dari bahasa Arab adalah dhohir. Pengertian dhohir dimaknai sebagai segala sesuatu yang dapat dilihat, diraba dan dirasakan oleh panca indra manusia.

Sesunguhnya dalam kaidah Alquran, dhohir seakar kata dho-ha-ro, sama dengan dhuhur, yang dari aspek anatomi menunjuk pada tubuh bagian belakang, yakni pungung. Dalam hal ini bagian utama dari pungung dari tinjauan anatomis adalah tulang belakang.

Jadi secara fisiologis, kondisi fisik tubuh manusia melekat dan tidak dapat dipisahkan dengan kondisi kesehatan tulang belakangnya. Dengan kata lain dalam analisa patologi fisiologis, ganguan pada fisik atau dhohir seseorang dapat dilihat dan diperbaiki dari tulang belakangnya.
***

Di sisi lain masyarakat awam menganggap bahwa bathin dipahami sebagai masalah yang abstrak. Lebih jauh bathin dipahami sebagai psikis atau yang berhubungan dengan persoalan mental dan kejiwaan.

Bahkan bagi sebagian orang, istilah bathin dihubungkan dengan spiritualitas, atau malah dianggap berkaitan dengan supranatural, klenik, jopa-japu, mistis hingga perdukunan.

Dalam hal ini, secara keliru dipahami bahwa bathin dihubungkan dengan fungsi kepala dan organ-organ di dalamnya.

Padahal etimologi kata bathin, dari muasal bahasa arab, berakar kata ba-tho-nun, sama dengan bathnun, yang secara leksikal berarti perut. Dengan maksud pengertian yang sama, Alquran menyebut dengan akar kata yang sama persis sebagai buthun.

Jadi secara fisiologis, kondisi bathin manusia melekat dan tidak dapat dipisahkan dengan kondisi kesehatan perut, bukan kepala. Dengan kata lain, dalam patologi fisiologis, seseorang yang mengalami ganguan bathin atau psikis dapat dilihat dan diperbaiki dari kesehatan perutnya.

Dapat dipastikan bahwa mereka yang mengalami ganguan bathin, termasuk penderita ganguan jiwa, pasti memiliki ganguan di bagian organ-organ perutnya. Semakin akut ganguan itu, maka semakin parah pula ganguan psikisnya.

Secara umum persoalan yang dihadapi manusia sejak dahulu kala adalah ganguan ketidakseimbangan dhohir dan bathin. Ketidakseimbangan tubuh manusia itu telah menyebabkan timbulnya berbagai penyakit dan persoalan hidup, bagi diri pribadi maupun lingkungannya.

Dengan merujuk pada pemaknaan dhohir dan bathin menurut Alquran, maka puasa merupakan metode paling tua di dunia untuk melakukan proses keseimbangan tubuh manusia, dhohir dan bathin. Sejarah tradisi purba tentang puasa itu termaktub dalam ayat perintah berpuasa.

_Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa._

Terbukti dari banyak penelitian ditemukan bahwa puasa dikenal dalam berbagai tradisi agama dan budaya apapun, di seluruh belahan dunia timur dan barat, sejak dahulu kala. Puasa di seluruh dunia juga diyakini sebagai cara yang paling mujarab, untuk meningkatkan kualitas pribadi lahir dan bathin.

Adapun dalam hal keberhasilan menjalankan ibadah puasa menjadi muttaqin, hanya bisa tercapai jika puasa seseorang itu berhasil membentuk sebagai insan yang seimbang baik dhohir dan bathinnya.

Lantas bagaimana agar puasa dapat mencapai proses keseimbangan dhohir dan bathin?
(Bersambung…)

Selamat berpuasa dhohir bathin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *