HARIS Ke BONI HARGENS : Sampaikan Pada Jokowi, Negara Ini Bisa Bubar

Katasandi- Aktivis 98 Haris Rusli Motti* menitipkan pesan mengejutkan buat Presiden Republik Indonesia Joko Widodo tentang negara Indonesia kedepan. Pesan tersebut dititipkan melalui pengamat Politik *Bone Hargen* yang sama-sama menjadi narasumber diacara diskusi publik bulanan nusantaranews.co bertajuk *“Membedah Agenda Politik Komunisme“,*

*“Kalau begini terus mengelola negara pak Boni (Boni Hargens)–tolong sampaikan kepada Pak Joko Widodo itu– Saya tidak mendahului, tapi negara ini bisa bubar. Dan saya tidak mau terlibat menjadi orang yang ikut membubarkan negara ini”,* pesan Haris di Bumbu Desa, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

Haris menyatakan demikian, karena baginya adu domba yang dialami rakyat Indonesia diusia reformasi yang ke-20 ini semakin parah. Adu domba yang paling nyata, sejalan dengan tema diskusi, ialah seputar isu ideologi komunisme disatu pihak dan isu khilafah dipihak lain.

Menurut Haris, fenomena kebangsaan tersebut bukanlah dosa warisan dari para pendiri bangsa melainkan disebabkan oleh penerus bangsa, khususnya para penggerak reformasi hingga sekarang yang turut menjalankan roda pemerintahan.

“Karena itu kalau kita mau mengakhiri pertikaian ideologis seperti ini, saya berkali-kali menyampaikan di forum-forum, cobalah kita koreksi sistem di era reformasi seperti sekarang. Dimana hanya menjadi biang keladi dari beragam macam masalah kebangsaan,” kata Haris.

Tidak ada dinegara manapun, lanjut dia, pemerintah mengadu-domba rakyatnya, yang ada hanya di Indonesia. Di Malaysia dan Singapura tidak ada pemerintahnya yang mengadu-domba rakyatnya.

“Hal tersebut terus menerus kita rawat proses adu domba antara sesama anak bangsa ini. Jadi, supaya ke depan ini lebih memberi harapan bagi kehidupan bangsa dan negara ini, sekali lagi saya tekankan kembalilah ke UUD 1945. Lalu kita adendum secara waras dan rasional,” hematnya.

Namun demikian, Haris menyatakan bahwa, tidak ada yang salah dari para pendiri bangsa Indonesia. “Kita ini yang sok pintar. Sekolah di Amerika, sekolah di Eropa, setelah pulang merasa menjadi yang paling pintar. 20 tahun reformasi Indonesia bisa bubar malah. Inilah karya kita,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap kepada semua pihak untuk kembali ke akar masing-masing.

“Kepada seluruh prajurit TNI kembalilah kepada *_Sapta Marga dan Sumpah Perajurit_*. Kepada insan intelijen kita kembalilah kepada sumber intelijen negara. Dan kepada pemuda Indonesia, kembalilah kepada Sumpah Pemuda, kembalilah pada Pancasila, kembalilah kepada diri kita sendiri,” harapnya.

“Bukanlah pancasila itu adalah aku. Aku berketuhanan Yang Maha Esa, tiba-tiba aku menuhankan duit setiap menyogok orang (pakai duit). Aku Persatuan Indonesia. Tetapi dalam politik kenegaraan hari ini kita saksikan itu membenturkan dan mengadu-domba terus menerus antar umat beragama, antara yang ini dengan yang itu,” tegas Haris menambahkan.

Editor: Achmad S.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *