Formasi Menang Timnas Indonesia Ternyata 433i

Oleh: Edi Pohan, jakarta. pencinta sepakbola nasional.

Katasandi- Pasukan Indra sjafri menjaga tren kemenangan di asean games manila dengan mengalahkan singapura 2-0. Setelah sebelumnya juga membungkam juara bertahan, raja asia tenggara thailand dengan skor sama.

Apresiasi patut diberikan pada kerja keras anak-anak muda ini, dan semua ofificial yang sudah berkerja dengan sangat baik. Tentu saja pujian khusus pada sang pelatih kampung modern, coach Indra sjafri.

Setelah sekian lama timnas senior kita, hampir tanpa kemenangan pada level internasional, kemenangan yg diberikan oleh pemain-pemain muda ini seperti oase di padang gersang prestasi timnas sepakbola indonesia. Untuk ukuran asean games sejak tahun 1991 indonesia belum lagi pulang membawa medali emas. Waktu yg terhitung panjang untuk sebuah penantian.

Pada level senior, Pelatih silih berganti datang, kemenangan tak kunjung tiba. Sampai ada pameo yg mengatakan even itu jose morinho sekalipun tak kan bisa mengangkat prestasi timnas indonesia.

Beberapa tahun lalu, seorang pelatih yang dijuluki pelatih kampung datang memberi angin segar. Di sebut kampung karena memang Indra Sjafri berkeliling dari kampung ke kampung mencari bibit pemain bola di seluruh pelosok negeri. Tak ada ekpose media, indra sjafri terus berjalan dengan keyakinannya. Hasilnya indonesia dibawa menjadi juara asean di level u 19. Kemudian mengalahkan korea selatan juara bertahan piala asia u19, di tahun yang sama.

Indra shafri kemudian diberi amanah sebagai pelatih kepala timnas senior. tak berhasil saat itu. Secara teknis dapat kita pahami, para pemain pilihan dan binaan nya belum cukup dewasa untuk dipilih bermain di timnas senior.

Sang pelatih kampung kembali meneruskan hobbynya, melatih dan mencari bibit-bibit muda dari kampung ke kampung. Formasi 433i adalah pavoritnya, tambahan i adalah inisial Indra sjafri. Sebab di sepakbola indonesia hampir seluruh klub liga indonesia, tak terbiasa dengan formasi tersebut. Mereka lebih familiar dengan formasi 442 ato 352 klasik. (Lima pemain bertahan).

Penekanan pada pisik yg prima, dan punya kemampuan sprint pada sisi sayap membuat pelatih kebugaran dan ahli gizi menjadi bagian penting dari strategi sang pelatih.

Ilham udin armaijn dulu, sekarang sadil ramdani, egi, firza dan asnawi adalah sisi sisi modern dari permainan indra sjafri. Tiga gelandang skill tinggi, petarung, yang bertugas memenangi perebutan di lini tengah, sekaligus membentengi para bek sebelum pemain lawan berhadapan dengan kiper. Striker false nine, tidak perlu jangkung, cukup opotunis saja di kotak pinalty lawan. Bench yang seimbang, dengan kemampuan yang kurang lebih setara. Membuat indra sjafri leluasa dengan formasi 433i nya.

Mengalahkan Thailand, setelah timnas senior terpuruk, agak sulit dibayangkan awalnya. Tapi dg 433i anak-anak muda ini berhasil melewatinya, meski pada pertandingan pertama tersebut di lini tengah terlalu banyak kekosongan, untungnya bisa tertutupi oleh aksi aksi ciamik zulfiandi di deep playmaker.

Pertanyaan menariknya, bukanlah pada apakah indonesia bisa memenangi medali emas di asean games kalli ini. Tapi bagaimana formasi kemenangan ini bisa ditularkan ke level senior, agar timnas indonesia bisa bicara di pentas dunia, ato setidaknya asia.

Perlu dipersiapkan lebih konferehensif, timnas kita hanya bisa menang dg formasi 433. Dua dekade kebelakang hampir tak ada fakta yang bisa membantah hal tersebut.

Tim kepelatihan nasional dari seluruh kelompok usia perlu memahami lebih mendalam, tak usah malu, memang indra sjafri lah yang mempeloporinya di indonesia.

Akhirnya, untuk memilih pelatih timnas senior, perlu dilakukan focus grub discustion dan presentasi mengenai stok pemain kita dengan formasi 433 tersebut. Bagaimana meningkatkan kekuatan di formasi tersbut. Meng eksplorasi karakter baru sepakbola indonesia yang dapat memberikan hasil postif.

Sehingga siapapun pelatih timnas senior nanti dapat meneruskan dg prestasi yang lebih baik lagi.
Di level dunia, banyak pemain bagus tapi tidak menjadi prioritas bagi pelatihnya, karena tidak sesuai, ato bahkan malah menggangu ritme permainan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *