banner 728x250

Pakar Kebijakan Publik : Partai Golkar Perlu Terapkan Meritokrasi Dalam Organisasi Kepartaian

Profesor Kishore Mahbubani, pakar kebijakan publik pada Kebijakan Publik Lee Kuan Yew School, Universitas Nasional Singapura. (dok:foto)
banner 120x600

Jakarta, Katasandi.id – Profesor Kishore Mahbubani, seorang pakar kebijakan publik pada Kebijakan Publik Lee Kuan Yew School, Universitas Nasional Singapura menyebut bahwa Partai Golkar perlu mendorong terciptanya meritokrasi dalam organisasi kepartaian. Hal ini ia sampaikan saat menjadi narasumber program Executive Education Program For Young Political Leaders (program pendidikan bagi para pemimpin muda) Golkar Institute angkatan ke-2, Selasa (6/7/2021) yang dilakukan secara daring.

Kishore menyampaikan tentang bagaimana meritokrasi diterapkan di China. Ia menyebut, di China, orang-orang yang berprestasi ditempatkan pada sektor publik. Menurutnya, hal itu bisa menjadi contoh bagi Partai Golkar.

“Salah satu kunci utama keunggulan China adalah meritrokrasi, dimana orang-orang terbaik untuk bekerja di sektor publik. Partai Komunis Cina memastikan bahwa orang-orang terbaik di China bergabung dengan Partai tersebut. Golkar bisa mencontoh mereka, tanpa harus menjadi komunis. Bagaimana memilih orang-orang terbaik untuk bergabung ke partai. Misalnya dengan menerapkan syarat, hanya mereka yang juara 1 di SMA dapat bergabung ke Golkar”, ujarnya.

Kishore juga menyinggung soal kepemimpinan Indonesia di ASEAN.

“Indonesia adalah anggota terbesar di ASEAN. Indonesia harus memikirkan bagaimana untuk menunjukkan kepemimpinan yang baik di ASEAN, Golkar juga dapat memikirkan itu. Kepemimpinan yang baik di ASEAN merupakan proteksi terbaik terhadap kemungkinan konflik yang terjadi antara US dan China”, sambung Kishore.

Selanjutnya, Kishore juga mengomentari praktik demokrasi di Amerika yang kian terkikis.

“Amerika telah berubah dari demokrasi menuju plutokrasi. Demokrasi artinya dari 100% rakyat, oleh 100% rakyat, dan untuk 100% rakyat. Plutokrasi adalah dimana pemerintahan berasal dari 1% rakyat, oleh 1% rakyat, untuk 1% rakyat. 50% rakyat Amerika dengan pendapatan terendah terus mengalami penurunan pendapatan. Berbagai indikator menunjukkan bahwa kelas pekerja kulit putih Amerika semakin tidak bahagia, dan itu ditunjukkan dengan terpilihnya presiden Donald Trump sebagai simbol kemarahan mereka”, jelas Kishore. (Rls/Ks)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *