banner 728x250

Siswi SMA Negeri di Benteng Viral, Rohidin Mersyah: Jangan Sampai Menghilangan Hak Anak dalam Memperoleh Pendidikan

Rohidin Mersyah Gubernur Bengkulu Periode 2020-2024
banner 120x600

Provinsi Bengkulu, Katasandi.id- Masih terkait berita mengenai Siswi kelas II SMA Negeri di Kabupaten Bengkulu Tengah yang mendapat desakan serta petisi  menyerukan agar pihak sekolah yang berada di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) segera mengeluarkannya dari sekolah. Pasalnya Pelajar perempuan itu beberapa waktu lalu mengunggah konten video dimana dia tampak menghina warga Palestina dengan sebutan hewan, bukan hanya itu dia juga menggaungkan ajakan untuk membantai dalam Unggahan tik-tok nya, Sabtu (15/05/2021).

Melansir Siberzone.id, pengumpulan informasi dari Dinas Pendidkan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIl Kabupaten Bengkulu Tengah, Adang Parlindungan  di ruang kerjanya, Rabu, (19/05/2021)

Menurut keterangan Adang Parlindungan, ada beberapa hal yang dilaporkan.

“1. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Vll Kabupaten Bengkulu Tengah pada hari Senin tanggal 17 Mei 2021 melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu. Selanjutnya Kepala CABDIN memprakarsai untuk melakukan pertemuan mengundang berbagai unsur masyarakat di lokasi SMA tempat siswi dimaksud.

2. Pada hari Senin siang tanggal 17 Mei 2021 pertemuan diselenggarakan dengan dihadiri oleh unsur Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Vll Kabupaten Bengkulu Tengah, MUI, KODIM dan Forum Lintas Agama untuk melakukan langkah antisipasi dalam meredam potensi konflik sosial dampak kejadian dimaksud. Hasil Pertemuan menyepakati bersama bahwa siswi tersebut di kembalikan kepada kedua orangtuanya dan memanggil siswi berikut orangtuanya ke sekolah dan telah menyampaikan permohonan maaf secara pribadi dan terbuka melalui media sosial didampingi oleh unsur-unsur yang hadir pada pertemuan yang diupload pada tanggal 18 Mei 2021.

3. Siswi tersebut bernama Martaria Simbolon (MS) kelas ll saat ini berusia 19 Tahun, memiliki beberapa catatan di sekolah yaitu pemah memblokir Whatsapp dari guru agamanya (Pendeta) dan ketidak patuhan administratif di sekolah serta pernah tidak naik kelas,” jelas Adang.

Hingga sekarang, imbuh Adang, kita masih melakukan Rapat lebih lanjut dengan pihak-pihak yang terkait. Sebagai langkah kelanjutan dalam proses pengamanan kepada siswi yang bersangkutan dan keberlanjutan dalam memperoleh proses pendidikan di sekolah,” ungkap Adang.

Permasalahan ujaran kebencian yang tersebar melalui aplikasi Tik-tok ini mendapat sorotan Gubernur Bengkulu Dr. H. Rohidin Mersyah, M.MA,. Rohidin menyampaikan prihatin terkait kasus ujaran kebencian yang terjadi tersebut dan berharap kejadian ini tidak terulang kembali. Dibutuhkan perhatian lebih dari Orang tua untuk mendidik anak dalam menggunakan media sosial.

“Saya turut prihatin terkait ujaran kebencian yang dilakukan salah satu siswi SMA Negeri di Bengkulu Tengah Tersebut, diharapkan ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi para pihak, diperlukan pendidikan yang lebih mendasar oleh guru-guru sekolah untuk menghimbau jangan sampai hal sperti ini terulang kembali. Dibutuhkan pengawasan lebih dari orang tua kepada anak-anak nya dalam menggunakan media sosial,” Ungkap Rohidin Mersyah dalam pesan Suara Whatapp yang dikirimkan ke media ini, Rabu (19/05/2021).

Lanjut, Rohidin Mersyah yang juga berasal dari kalanganan Akademisi ini, menyayangkan apabila keputusan sekolah tempat siswi tersebut mendapatkan pendidikan langsung mengeluarkan atau melakukan droup out Siswi tersebut.

“Kita dari Pemerintah Provinsi Bengkulu sangat menyayangkan apabila pihak sekolah tempat Siswi tersebut mendapatkan pengajaran langsung mengeluarkan Siswi tersebut dari sekolah, perlu dicari solusi yang lebih baik, jangan sampai menghilangan Hak Anak dalam memperoleh pendidikan, jikalau sudah keluar dari sekolah tersebut perlu difasilitasi perpindahan ke sekolah SMA lain yang sederajat. tutup Rohidin Mersyah.

Berdasarkan Informasi terbaru yang media ini dapatkaan bahwa Siswi yang melakukan ujaran kebencian tersebut tidak dikeluarkan dari SMA Negeri yang ada di Kabupaten Bengkulu Tengah, melainkan pihak keluarga dengan sadar menarik anaknya atau memindahkan ke sekolah lain demi kebaikan pisik, psikis, maupun mental anak nya. (KS)

.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *