by

Tolak Tambang Pasir Besi, Tien Syafrudin: LSM LIRA Satu Nafas Dengan Masyarakat Desa Pasar Seluma

Kabupaten Seluma, Katasandi.id – Sekelompok Ibu-Ibu di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu melakukan aksi terkait tambang pasir besi yang berada di Desa Pasar Seluma. Puluhan masa mayoritas Ibu-Ibu ini membawa spanduk bertuliskan penolakan terhadap keberadaan tambang pasir besi PT. Faminglevto Bakti Abadi, Kamis (23/12).

Berdasarkaan investigasi dilapangan diketahui aksi dilakukan atas dasar masih terjadi nya aktifitas penambangan dikawasan tambang pasir besi di lokasi tersebut.

Mungkin gambar 6 orang, orang berdiri, orang duduk dan luar ruangan

Pengurus WALHI Bengkulu Abdul, dilokasi tambang pasir besi menjelaskan pada media ini, aksi yang dilakukan masyarakat Kabupaten seluma tepatnya Desa Pasar Seluma ini merupakan penolakan atas keberadaan tambang yang berada di desa mereka. Masyarakat desa mendatangi WALHI untuk menanyakan izin tambang PT. Faminglevto Bakti Abadi.

“Pada Bulan November masyarakat Desa Pasar Seluma datang ke WALHI mempertanyakan terkait izin PT. Faminglevto Bakti Abadi. Setelah kita telusuri terkait izin nya, memang pernah ada pada tahun 2010 tapi sampai tahun 2021 ini belum ada terkait aktifitas. Bila mengacu pada Undang-undang perusahaan tersebut dapat dikatakan menelantarkan kawasan. Serta ada kewajiban-kewajiban perusahaan yang tidak dipenuhi salah satu nya tidak membayar jaminan Reklamasi kepada pemerintah daerah. 2015 ada Korsup KPK mengeluarkan bahwa PT. Faminglevto Bakti Abadi masuk didalam Cagar Alam kurang lebih seluas 37 hektar,” terang Abdul.

Lanjut, Abdul juga mengatakan bahwa PT. Faminglevto Bakti Abadi diduga telah melanggar aturan sehingga tidak dapat menjalankan aktifitas atau dapat dikatakan ilegal.

”2016 keluar terkait dengan Kementrian Dirjen Mineral Dan Batu Bara mengenai pengumuman CNC yang mengacu pada Undang-undang nomor 43 tahun 2015 mengenai evaluasi pertambangan, ada 4 unsur yang di evaluasi. Terkait administrasi, kewilayaan, teknis dan lingkungan, dan terkait dengan keuangan. Kita menduga ada 3 hal yang tidak dilaksanakan oleh perusahaan. Pertama, Mengenai administrasi yaitu perusahaan tidak menyampaikan RTTL dan RKAB. Kedua, terkait kewilayahan bahwa izin operasi produksi yang dilakukan oleh perusahaan masuk didalam kawasan Cagar Alam. Terakhir terkait tidak membayar jaminan Reklamasi,” terang Abdul.

Saat ditemui tidak jauh dari lokasi tambang, Kades Pasar Seluma Hertoni, menjelaskan pada media ini terkait tuntutan atau keinginan dari warga Pasar Seluma. Hertoni menjelaskan keinginan warga hanya satu. Warga tidak menginginkan keberadaan tambang pasir besi diwilayah desa mereka.

“Tuntutan dari pada Ibu-ibu itu menginginkan alat berat yang berada dilokasi tambang ditarik keluar. Tidak ada cerita izin, masyarakat tidak menginginkan keberadaan tambang tersebut. Karna tambang tersebut lebih banyak memberi mudarat dari pada manfaatnya, Jelas Hertoni.

Dilokasi yang sama Gubernur LSM LIRA Tien Syafrudin ketika ditanya keberadaan nya dilokasi menjelaskan, bahwa kita LSM Lira tidak menutup mata terkait apa yang sedang terjadi di Kabupaten Seluma. Kita akan mengawal permasalahan tambang pasir besi yang berada di Desa Pasar Seluma.

“Kita LSM LIRA menunjukan bahwa kita berada ditengah-tengah masyarakat. Kita sudah menyaksikan perjuangan para Ibu-ibu secara langsung. Kita pastikan LSM Lira siap mempertaruhkan jiwa dan raga membela masyarakat Desa Pasar Seluma, LSM LIRA Satu Nafas Perjuangan dengaan masyarakat,” Ungkap Tiens.

Berdasarkan informasi yang media ini terima, aksi yang dilakukan oleh ibu-ibu berasal dari 6 Desa di Kabupaten Seluma yang menolak keberadaan tambang pasir besi di Desa Pasar Seluma ini berlangsung hingga larut malam. (KS)

Mungkin gambar 10 orang, orang duduk, orang berdiri, kerudung dan luar ruangan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.